HARUS PAHAM..!!! Ini Hukum Merayakan NATAL Bagi Kaum Muslim, Kalau Anda MUSLIM Mohon Beritahu Teman Anda

Berikut ini asumsi ilmiyah terhadap komentar sebagian pihak yang membolehkan pengucapan selamat natal untuk kalangan muslimin:
kesatu: keharaman memperingati hari raya kalangan kafir dan mengucapkan selamat “hari raya” kalangan muslim haram menjajaki pakar kitab (yahudi dan juga nasrani) memperingati hari natal ataupun hari raya mereka, dan mengucapkan perkataan “selamat natal”, karna ini menggambarkan penggalan dari aktivitas khas keagamaan mereka, ataupun syiar agama mereka yang batil. kita juga dilarang meniru mereka dalam hari raya mereka.

keharaman itu dinyatakan dalam al - kitab, as - sunnah dan juga ijma’ teman. kesatu, dalam al - qur’an, allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً [الفرقان: 72]

“dan orang - orang yang tidak menyaksikankemaksiatan, dan juga apabila mereka berjumpa dengan (orang - orang) yang mengerjakan perbuatan - perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui (aja) dengan melindungi kehormatan pribadinya. ” (q. s. al - furqan [25]: 72)

mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut melaporkan, “az - zûr (kemaksiatan) itu merupakan hari raya kalangan musyrik. begitu pula komentar yang sama dikemukakan oleh ar - rabî’ bin anas, al - qâdhî abû ya’lâ dan juga ad - dhahâk. ” ibn sirîn berpendapat, “az - zûr merupakan sya’ânain. sebaliknya sya’ânain merupakan hari raya kalangan kristen. mereka menyelenggarakannya pada hari ahad sebelumnya buat hari paskah. mereka merayakannya dengan bawa pelepah kurma. mereka mengira itu mengenang masuknya isa al - masih ke baitul maqdis. ”[1]

wajh ad - dalâlah (wujud penunjukan dalil) - nya merupakan, bila allah menyanjung orang - orang yang tidak melihat az - zur (hari raya kalangan kafir) , sementara itu cuma sekadar muncul dengan memandang ataupun mendengar, kemudian gimana dengan aksi lebih dari itu, ialah merayakannya. bukan sekadar melihat.
kedua, menimpa as - sunnah, dalil yang melaporkan keharamannya merupakan hadits anas bin malik ra, yang melaporkan:
قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

“rasulullah saw. datang di madinah, sedangkan mereka (penduduk madinah) memiliki 2 hari, dimana mereka lagi bermain pada hari - hari tersebut, seraya mengatakan, ‘dua hari ini hari apa? ’ mereka menanggapi, ‘kami semenjak era jahiliyyah bermain pada hari - hari tersebut. ’ rasulullah saw bersabda, ‘sesungguhnya allah telah mengubah keduanya dengan hari yang lebih baik: hari raya idul adhha dan juga hari raya idul fitri. ” (hr. abu dawud, ahmad dan juga an - nasa’i dengan ketentuan muslim)

wajh ad - dalâlah (wujud penunjukan dalil) - nya merupakan, kalau kedua hari raya jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh rasulullah saw. nabi pula tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang jadi tradisi mereka. kebalikannya, nabi bersabda, “sesungguhnya allah telah mengubah keduanya dengan hari yang lebih baik. ” statment nabi yang melaporkan, “mengganti” mewajibkan kita buat meninggalkan apa yang telah ditukar. karna tidak bisa jadi antara “pengganti” dan juga “yang diganti” dapat dikompromikan. sebaliknya sabda nabi saw, “lebih baik dari keduanya. ” mewajibkan digantikannya perayaan jahiliyah tersebut dengan apa yang disyariatkan oleh allah kepada kita.

ketiga, aksi ‘umar dengan ketentuan yang ditetapkannya kepada pakar dzimmah telah disepakati oleh para teman, dan juga para fuqaha’ setelahnya, kalau pakar dzimmah tidak boleh medemonstrasikan hari raya mereka di daerah islam. para teman setuju, kalau mendemonstrasikan hari raya mereka aja tidak boleh, kemudian gimana bila kalangan muslim melaksanakannya, hingga tentu tidak boleh lagi.

‘umar juga berpesan:

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقيإسناد صحيح].

“tinggalkanlah bahasa kalangan ajam (non - arab). janganlah kamu merambah (perkumpulan) kalangan musyrik dalam hari raya mereka di gereja - gereja mereka. karna murka allah hendak diturunkan kepada mereka. ” (hr. al - baihaqi dengan isnad yang shahih)
ibn taimiyyah berpendapat, “umar melarang belajar bahasa mereka, dan juga sekadar merambah gereja mereka pada hari raya mereka. kemudian, gimana dengan mengerjakan perbuatan mereka? ataupun mengerjakan apa yang jadi tuntutan agama mereka. bukankah melaksanakan aksi mereka jauh lebih berat lagi? tidaklah memperingati hari raya mereka lebih berat dibanding cuma sekadar menjajaki mereka dalam hari raya mereka? bila murka allah hendak diturunkan kepada mereka pada hari raya mereka, akibat aksi mereka, hingga siapa aja yang ikut serta berbarengan mereka dalam kegiatan tersebut, ataupun sebagian kegiatan tersebut tentu mengundang adzab tersebut. ”[2]

perihal senada pula dikemukakan oleh ibn al - qayyim al - jauziyyah dalam kitabnya, ahkam ahl ad - dzimmah, juz i/161. dia melaporkan, para ulama’ setuju tentang keharaman mengucapkan “selamat hari raya” kepada mereka, tidak terdapat perselisihan komentar.
kedua: mereka yang membolehkan
dokter. quraisy shihab melaporkan, membagikan perkataan selamat natal sudah diajarkandalam al - qur’an, serupa tertuang dalam surah maryam ayat 34.
“itu tentang isa putera maryam, yang menggambarkan perkataan yang benar, yang mereka berbantah - bantahan tentang kebenarannya. ” (q. s. maryam [19]: 34)

ayat ini sama sekali tidak mangulas tentang hukum kebolehan mengucapkan “selamat natal”. bagi al - qurthubi, ayat ini menarangkan tentang siapa nabi ‘isa –‘alaihissalam. ia merupakan putra maryam, tidak serupa yang dituduhkan orang yahudi, bagaikan putra yûsuf an - najjâr, ataupun serupa klaim

orang kristen, kalau ia merupakan tuhan (anak) , ataupun putra tuhan. [3]

dokter. yusuf al - qaradhawi berkata, kalau memperingati hari rayaagama merupakan hak tiap - tiap agama, sepanjang tidak merugikan agamalain. tercantum hak masing - masing agama buat membagikan perkataan selamat saatperayaan agama lain. ia berkata, “sebagai penganut islam, agama kami tidak melarangkami buat buat membagikan perkataan selamat kepada non - muslim masyarakat negarakami ataupun orang sebelah kami dalam hari besar agama mereka. bahkanperbuatan ini tercantum dalam jenis al - birr (perbuatan yangbaik).
sebagaimana firman allah swt:

“allah tidak melarang kalian berbuat baik dan juga berlaku adil kepada orang - orang yang tiada memerangimu karna agama, dan juga tidak mengusir kalian dari negerimu. sebetulnya allah menggemari orang - orang yang berlaku adil. ” (q. s. al - mumtahanah: 8)

kebolehan membagikan mengucapkan selamat ini paling utama apabila penganut agama lain itujuga telah membagikan perkataan selamat kepada kita dalam perayaan hari rayakita:

“apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, hingga balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, ataupun balaslah penghormatan itu. sebetulnya allah memperhitungankan seluruh suatu. ” (q. s. an - nisa‘: 86)

begitu, kata dokter. yusuf al - qaradhawi. sementara itu, q. s. al - mumtahanah: 8 di atas, spesialnya frasa “tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim” (berbuat baik dan juga berlaku adil kepada mereka) tidak terdapat kaitannya dengan mengucapkan “selamat hari raya” kepada kalangan kafir yang tidak memerangi kita. karna berlagak baik dan juga adil kepada mereka dalam perihal ini terpaut dengan mu’amalah, bukan ibadah. sebaliknya mengucapkan “selamat hari raya” kepada mereka penggalan dari ibadah. konteks ayat ini terpaut dengan bani khuza’ah, dimana mereka menandatangani perjanjian damai dengan nabi buat tidak memerangi dan juga membantu siapapun buat mengalahkan baginda saw, hingga allah perintahkan kepada baginda saw buat berbuat baik, dan juga menepati janji kepada mereka sampai berakhirnya waktu perjanjian. [4] jadi, konteks “berbuat baik” di mari sama sekali tidak terdapat kaitannya dengan “selamat hari raya” kepada mereka, yang menggambarkan penggalan dari “berbuat baik”.

demikian pula dengan q. s. an - nisa’: 86. ayat ini menarangkan tentang tahiyyah (perkataan salam) yang di informasikan kepada orang mukmin. tahiyyah pula dapat berarti doa supaya diberi kehidupan. bagi at - thabari, “jika kamu didoakan orang supaya diberi panjang usia, hingga diperintahkan buat mendoakannya dengan doa yang sama. ”[5] tetapi, bagi al - qurthubi, tahiyyah di mari dapat berarti perkataan salam. jadi, “jika kamu diberi salam, hingga jawablah salamnya dengan lebih baik. ” cuma, bagi al - qurthubi, balasan lebih baik ini dikhususkan kepada orang islam, bila mereka yang mengucapkan salam. bila yang mengucapkan salam orang kafir, tercantum pakar dzimmah, hingga tidak boleh membalas salam mereka, kecuali dengan jawaban yang dianjurkan oleh nabi, “wa ‘alaikum. ” [6]
jadi, memakai ayat ini buat membolehkan kalangan muslim mengucapkan “selamat hari raya” kepada kalangan kafir jelas tidak pas. terlebih lagi, berlawanan dengan beberapa dalil, baik al - qur’an, as - sunnah ataupun ijma’ teman. walaupun begitu, dokter. yusuf al - qaradhawi secara tegas berkata, kalau tidak halal untuk seseorang muslim buat turut dalam ritual dan juga perayaan khas agama
lain.

ada juga dokter. mustafa ahmad zarqa’ melaporkan kalau tidak terdapat dalil yang secarategas melarang seseorang muslim mengucapkan selamat kepada orang kafir. dia melansir hadits yang mengatakan kalau rasulullah saw sempat berdiri menghormati jenazah yahudi. penghormatan dengan berdiri ini tidak terdapat kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.

bagi dia, perkataan “selamat hari raya” kepada para penganut kristiani yang lagi memperingati hari besar mereka, pula tidakterkait dengan pengakuan atas kebenaran kepercayaan mereka, melainkanhanya penggalan dari mujamalah (basa - basi) dan juga muhasanah seseorang muslimkepada sahabat dan juga koleganya yang kebetulan berubah agama. ia pula memfatwakan, kalau karna perkataan selamat inidibolehkan, hingga pekerjaan yang terpaut dengan perihal itu serupa membuatkartu perkataan selamat natal juga hukumnya turut dengan hukum ucapannatalnya.

tetapi ia pula melaporkan, kalau perkataan selamat ini wajib dibedakan dengan turut memperingati hari besar secara langsung, serupa dengan mendatangi perayaan natal yang diselenggarakan di bermacam tempat. mendatangi perayatan natal dan juga upacara agama lain hukumnya haram dantermasuk perbuatan mungkar.

menimpa berdiri ataupun duduknya nabi kala jenazah yahudi melalui, sesungguhnya bukan dalil spesial, namun ini menggambarkan aksi yang dicoba nabi secara universal terhadap jenazah, baik muslim ataupun non - muslim. karna dalam riwayat al - hasan ataupun ibn ‘abbas dinyatakan, kalau nabi terdakang berdiri dan juga sering - kali duduk, dikala terdapat jenazah melintas di hadapan baginda saw. ini pula tidak terdapat kaitannya dengan mengucapkan “selamat hari raya” kepada mereka. karna konteksnya jelas - jelas berubah.

tentang pembuatan kartu natal ataupun aksesoris natal jelas haram, karna ini menyangkut madaniyyah khâshash yang terpaut dengan peradaban lain, di luar islam, yang nota bene merupakan kufur. karna itu, hukum membikin, menjual, menggunakan dan juga mengambil harga dan juga keuntungan darinya pula haram.

menimpa statment menteri agama yang melaporkan, kalau ini cumalah permasalahan mu’amalah, pula menggambarkan statment yang tidak teliti. karna tidak memilah mana yang ibadah dan juga mu’amalah. memperingati natal berbarengan merupakan penggalan dari ibadah, yang haram dicoba oleh kalangan muslim. terlebih lagi dapat menjerumuskannya dalam kemurtadan. sebaliknya berikan perkataan “selamat hari raya” penggalan dari mu’amalah yang haram dicoba oleh kalangan muslim kepada non - muslim, whatever dalihnya. apakah buat mujamalah (basa - basi) , yang nota bene merupakan perilaku nifaq, ataupun tasamuh (toleransi).

statment yang pula menggelikan merupakan statment mui, yang melaporkan boleh mendatangi, asal serimonialnya bukan ritualnya. statment serupa ini pula batil, yang sama sekali tidak terdapat dalilnya. karena, siapapun yang menelaah dalil - dalil yang dikemukakan di atas, tentu mengerti, kalau jangankan buat mendatangi seremoninya, karna melihatnya aja jelas - jelas tidak boleh.

kesimpulan dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan:

1 - hukum mengucapkan “selamat natal” ataupun “selamat hari raya” untuk orang non - muslim dalam hari raya mereka jelas haram. dalam perihal ini, bagi ibn al - qayyim al - jauziyyah, tidak terdapat perbandingan komentar di golongan ulama’.
2 - hukum menjajaki ritual ataupun seremoni hari raya orang non - muslim pula haram, tidak terdapat perbandingan komentar di golongan ulama’.
3 - membikin kartu ataupun aksesoris natal ataupun hari raya agama lain pula diharamkan, karna ini menyangkut madaniyyah khashahyang berlawanan dengan islam.
4 - dalil - dalil yang melaporkan keharamannya pula jelas, baik dalam al - qur’an, as - sunnah ataupun ijma’ teman. sebaliknya dalil - dalil yang dipakai buat melaporkan kebolehannya sama sekali tidak terdapat kaitannya, baik langsung ataupun tidak. karna itu, tidak layak diperuntukan hujah dalam permasalahan ini.

wallahu a’lam.

oleh: hafidz abdurrahman, magister akidah dan juga pemikiran islam, univesity of malaya, malaysia


- see more at: https: //www. arrahmah. com/read/2012/12/26/25704 - hukum - merayakan - natal - bagi - kaum - muslim. html#sthash. 30ywnvwa. dpuf




(sumber: https:// kiyaidadakan. blogspot. com/2016/12/harus-paham-ini-hukum-merayakan-natal.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.